Beranda / kampus Santuy / Harga Kantin Kampus

Harga Kantin Kampus

PHOSMEDIA | Lhokseumawe, Aceh – Selasa, 19 Mei 2026 Dinamika harga makanan di lingkungan kampus Universitas Malikussaleh (Unimal) kembali menjadi topik hangat yang ramai diperbincangkan di kalangan mahasiswa. Risfi Jefriyan Syah (19), seorang mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), memberikan pandangan kritisnya mengenai fluktuasi harga pangan yang kini membuat harga satu porsi nasi di kantin kampus mencapai angka Rp15.000.

Kampus bagi Risfi Jefriyan Syah bukan sekadar tempat untuk menuntut ilmu, melainkan sebuah ekosistem dinamis di mana ia harus mampu beradaptasi dengan berbagai kebijakan harga yang ditetapkan oleh para pedagang lokal. Sebagai mahasiswa yang beruntung karena memiliki tempat tinggal tidak jauh dari area kampus, Risfi mengaku bahwa perubahan harga dan porsi makanan tersebut tidak memberikan dampak yang terlalu menekan bagi kondisi ekonominya secara pribadi. Ia lebih memilih untuk mengonsumsi masakan rumah dibandingkan harus bergantung sepenuhnya pada layanan makan di kantin.

Kantin FISIP sendiri, menurut kacamata Risfi Jefriyan Syah, sebenarnya masih berada dalam rentang harga yang cukup terjangkau dan bersahabat bagi mayoritas mahasiswa yang menuntut ilmu di sana. Walau demikian, ia menyadari sepenuhnya bahwa kondisi pasar saat ini sedang berada dalam fase yang tidak menentu, terlebih setelah serangkaian peristiwa banjir bandang yang sempat melanda kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya. Bencana alam ini memberikan dampak domino yang cukup signifikan terhadap kelancaran pasokan bahan pokok, yang akhirnya memaksa para pedagang untuk melakukan penyesuaian harga jual agar operasional mereka tetap terjaga. Menurut Risfi, langkah yang diambil oleh para pedagang tersebut merupakan sebuah keputusan yang logis dan pokoknya sangat beralasan untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak stabil.

Pokoknya, bagi mahasiswa perantau yang mengandalkan konsumsi kantin sebagai sumber makanan utama sehari-hari, kenaikan harga ini tentu menghadirkan dilema ekonomi tersendiri, terutama ketika uang saku sudah mulai menipis menjelang akhir bulan. Dalam menyikapi berbagai tantangan ekonomi tersebut, Risfi Jefriyan Syah berbagi strategi pribadinya yakni dengan senantiasa memprioritaskan konsumsi makanan di rumah sebagai metode yang paling efisien untuk menekan biaya pengeluaran bulanan. Meskipun ia memiliki cara tersendiri, ia tidak menampik fakta bahwa bagi banyak sesama mahasiswa, dalam situasi yang sangat mendesak atau terdesak oleh kebutuhan mendadak, meminjam uang kepada teman sejawat menjadi opsi terakhir yang sering ditempuh demi bisa bertahan hidup.

Bertahan hidup di tanah perantauan dengan manajemen keuangan yang terbatas memang menuntut setiap individu mahasiswa untuk senantiasa memiliki kreativitas dan kedisiplinan tinggi dalam mengelola kebutuhan. Fenomena ini secara jelas menunjukkan betapa eratnya hubungan antara stabilitas harga pangan di wilayah sekitar kampus dengan pola konsumsi dan tingkat kesejahteraan mahasiswa yang menuntut ilmu di Unimal, yang terus berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan akademik dan kebutuhan pokok sehari-hari.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *