Beranda / Film Riview / Backrooms: Ketika Lorong Kuning Jadi Penjara Tanpa Pintu Keluar.Film Horor Baru Ajak Penonton Rasakan Takut Tersesat Selamanya

Backrooms: Ketika Lorong Kuning Jadi Penjara Tanpa Pintu Keluar.Film Horor Baru Ajak Penonton Rasakan Takut Tersesat Selamanya

PHOSMEDIA|Lhokseumawe, 14 Juni 2026 – Gambarnya sederhana. Tulisan “BACKROOMS” tebal warna putih dan merah di sisi kiri. Di kanan, seorang pria berkemeja abu-abu berdiri kaku di tengah lorong. Dinding kuning pudar, karpet basah, lampu neon berderik di atas kepala. Wajahnya tegang. Bukan karena kaget. Tapi karena sadar dia tidak tahu harus lari ke mana.

Kalimat kecil di bawah judul jadi kunci: seorang pria nyangkut di dimensi aneh bernama Backrooms. Tugasnya cuma satu. Bertahan hidup. Sementara sesuatu mengintai dari sudut labirin yang rasanya tidak ada ujungnya.

Kisah Tentang Ruang yang Salah

Film “Backrooms” ngambil ide dari cerita urban legend internet. Gagasan dasarnya gampang dipahami. Kamu lagi jalan biasa, lalu tiba-tiba “melenceng” dari dunia nyata. Sekali salah langkah, kamu masuk ke tempat kosong. Mirip kantor tua yang ditinggal orang pulang. Bedanya, tempat ini tidak punya pintu keluar.

Dari poster, tokoh utamanya cuma satu. Pria paruh baya, ekspresinya kosong tapi waspada. Tidak ada nama, tidak ada latar belakang. Mungkin memang begitu maksudnya. Supaya penonton merasa: ini bisa terjadi ke siapa saja.

Lima Pertanyaan, Satu Jawaban: Kabur

Seorang pria terjebak. Dia masuk ke dimensi bernama Backrooms. Isinya lorong panjang yang berulang. Kuning, lembap, sunyi. Poster bilang dia harus bertahan dari teror yang mengintai di tiap sudut. Terornya tidak kelihatan. Tapi rasanya ada.

Cuma “seorang pria”. Poster sengaja tidak kasih identitas. Karena horor Backrooms memang bukan soal siapa korbannya. Tapi soal rasa tak berdaya saat ruang yang familiar berubah jadi asing.

Waktu di Backrooms tidak jalan. Tidak ada pagi, tidak ada malam. Poster rilis 2026, tapi cerita di dalamnya bisa terjadi kapan saja. Lokasinya jelas dari visual: labirin kantor tak berujung. Dinding warna kuning, lantai karpet, lampu neon yang bunyinya bikin kepala sakit.

Karena Backrooms main di ketakutan paling dasar manusia. Takut tersesat. Takut sendirian. Takut ruang aman berubah jadi jebakan. Film ini tidak jual hantu. Dia jual atmosfer. Semakin kamu jalan, semakin kamu sadar kamu tidak ke mana-mana.

Itu pertanyaan yang belum dijawab poster. Dari tagline, satu-satunya pilihan adalah bertahan hidup. Berlari? Bersembunyi? Mencari celah buat “keluar” lagi ke dunia nyata? Poster tidak kasih bocoran. Dia cuma nunjukin tatapan pria itu. Tatapan orang yang baru sadar, pintu keluar tidak selalu ada di depan.

Horor Tanpa Bentuk

Yang bikin “Backrooms” beda: dia tidak butuh monster buat bikin merinding. Cukup lorong panjang, suara dengung lampu, dan rasa bahwa ada sesuatu yang memperhatikan dari balik tikungan. Warna kuning di poster dipilih bukan tanpa alasan. Warna itu biasanya netral. Di sini jadi menekan. Seolah dindingnya ikut mengawasi.

Sampai berita ini ditulis, detail lengkap soal pemain, sutradara, dan tanggal tayang masih ditutup rapat. Tapi dari satu poster saja, “Backrooms” sudah berhasil bikin satu hal: bikin kita mikir dua kali sebelum bilang “ah, cuma lorong kosong”.

Karena di tempat itu, lorong kosong adalah hal paling berbahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *