Antara Efisiensi Tugas vs Hilangnya Kemampuan Berpikir Kritis
PHOSMEDIA | Lhokseumawe-Mahasiswa Indonesia kini menjadikan ChatGPT, Gemini, dan Grammarly sebagai “asisten pribadi” untuk mengerjakan tugas kuliah, makalah, hingga skripsi. Pengguna utamanya adalah mahasiswa S1 lintas jurusan yang menghadapi tumpukan deadline dan beban akademik tinggi setiap semester di kampus.
Kampus menjadi tempat utama mahasiswa mengakses AI saat kuliah berlangsung, mengerjakan tugas kelompok, atau bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing. Tren ini tidak hanya terjadi di PTN besar, tapi juga merambah kampus daerah seperti Unimal dan perguruan tinggi swasta di Aceh.
Aceh sebagai salah satu wilayah pendidikan ikut merasakan dampak masif penggunaan AI sejak 2023 hingga puncak 2026. Data terbaru menyebut 78% mahasiswa memakai AI minimal 3 kali seminggu, terutama saat ujian, UAS, dan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing masing-masing.
Masing-masing mahasiswa punya alasan berbeda menggunakan AI karena tekanan deadline dan tuntutan IPK tinggi. “AI bantu, tapi kalau semua diserahin ke mesin, mahasiswa kehilangan nalar kritisnya,” ujar Dosen Unimal, Dr. Rina Marlina,M.Kom prihatin melihat kondisi ini.
Ini menjadi dilema karena AI memang memudahkan brainstorming ide, meringkas jurnal, dan membuat kode program. Namun mahasiswa punya sudut pandang berbeda. “Jujur AI nyelametin gue pas deadline mepet. Tapi tetap gue edit biar nggak ketahuan dosen,” kata Dimas, mahasiswa Ilkom angkatan 2023.






