PHOSMEDIA | Lhokseumawe – Kamis (4/6/2026). Permainan tradisional Cublak-Cublak Suweng kembali dimainkan oleh beberapa mahasiswa/i melalui berbagai kegiatan budaya dan pendidikan di sejumlah daerah. Permainan yang berasal dari budaya Jawa ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, kejujuran, dan kerja sama antar pemain.
Cublak-Cublak Suweng dimainkan oleh tiga hingga lima orang atau lebih. Salah satu pemain bertugas menjadi “Pak Empong” dengan posisi telungkup, sementara pemain lain duduk melingkar dan memindahkan sebuah benda kecil, seperti kerikil atau biji-bijian, sambil menyanyikan lagu pengiring yang khas. Setelah lagu selesai, pemain yang menjadi Pak Empong harus menebak siapa yang menyimpan benda tersebut.
Permainan ini telah dikenal sejak lama dalam masyarakat Jawa dan diyakini berkaitan dengan tradisi yang berkembang pada masa penyebaran Islam di Jawa. Beberapa sumber menyebutkan bahwa lagu pengiringnya diciptakan oleh Sunan Giri sebagai media pendidikan dan penyampaian nilai-nilai moral kepada masyarakat.
Cublak-Cublak Suweng juga memiliki filosofi bahwa kebahagiaan dan harta yang paling berharga tidak selalu terlihat secara fisik, melainkan dapat ditemukan melalui hati yang bersih dan sikap yang jujur. Nilai-nilai tersebut menjadikan permainan ini lebih dari sekadar hiburan anak-anak saja.






