PHOSMEDIA | Lhokseumawe – 24/05/2026
“Tragedi Cinta Suci” Sinema ini sukses membuat perasaan audiens campur aduk hingga meneteskan air mata. Berlatarkan tradisi dan budaya adat suku Minangkabau serta Makassar, film megah ini diadaptasi dari novel legendaris Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka.
Novel sastra tersebut diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sunil Soraya pada tahun 2013 lalu. Kisah perjalanan cinta Zainuddin dan Hayati yang terhalang oleh ketatnya tembok adat istiadat dan berakhir dengan kematian tragis ini, sukses membuat siapa pun yang menontonnya menangis. Dialognya yang dikemas dengan bahasa puitis juga berhasil membawa penonton ikut hanyut merasakan nuansa era kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an.
Alur cerita bermula saat Zainuddin, pemuda yatim piatu yang kurang mampu dan memiliki garis keturunan Minang-Makassar, diperkenalkan. Pada tahun 1930-an, ia merantau ke tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Zainuddin jatuh hati pada Hayati, gadis bangsawan setempat, namun perbedaan kelas dan adat membuat hubungan mereka ditolak hingga ia dipaksa pergi dari Batipuh.
Meski mereka sudah mengikat janji setia hidup semati, Hayati dijodohkan dan terpaksa menerima pinangan Aziz, pemuda kaya berdarah asli Minang pilihan keluarganya. Hal itu membuat Zainuddin sakit hati hingga sempat terbaring sakit. Namun, ia harus bangkit dari keterpurukan; ia merantau ke Jawa dan sukses menjadi penulis terkenal dengan nama samaran Tuan Shabir.
Waktu terus berlalu, Aziz dan Hayati pindah ke Surabaya. Rumah tangga Hayati hancur karena suaminya suka berjudi. Meski dalam situasi sulit, Zainuddin tetap menyambut mereka di kediaman megahnya tanpa menyimpan rasa benci. Menyadari kebaikan Zainuddin, Aziz akhirnya menceraikan Hayati dan memilih mengakhiri hidupnya.
Hayati memohon maaf pada Zainuddin dan meminta untuk memulai kembali kisah cinta lama mereka. Tetapi Zainuddin yang sudah terlanjur sakit hati menolak permintaan tersebut. Ia menyuruh Hayati kembali ke Minangkabau menggunakan Kapal Van der Wijck.
Di tengah pelayaran, kapal tersebut tenggelam. Zainuddin segera menyusul Hayati, tetapi ia hanya bisa mendampingi detik-detik terakhirnya sebelum berpulang di rumah sakit. Zainuddin pun menghabiskan sisa hidupnya dalam kesendirian, menjaga cinta sejatinya yang dibawa mati bersama kenangan Hayati.
Dari film ini kita diperlihatkan bagaimana aturan adat istiadat dan penilaian manusia yang hanya melihat materi bisa menjadi tembok pemisah yang sangat kejam. Dan janganlah sesekali membuat keputusan di atas amarah, karena amarah hanya akan menyisakan penyesalan.
By: Dwi Idha Lestari






